homeschooling, school, technology

Alami Academic Burnout di Tengah Kegiatan Sekolah? Terapkan Tips Ini untuk Menghadapi Burnout

Academic burnout bukanlah hal buatan. Banyak anak sekolah sudah merasakan rasa jenuh karena belajar. Hal ini biasanya disebabkan karena berbagai hal.

Lantas, apa cara menangani academic burnout?

Artikel kami sebelumnya sudah membahas mengenai academic burnout terutama jika pembelajaran masih dilakukan secara jarak jauh / daring.

Artikel tersebut bisa dibaca di sini.

Nah, kali ini ada tips lagi mengatasi academic burnout yang tidak hanya disebabkan karena pembelajaran daring saja.

Mengutip Psychologies, psikolog Oliver Burkemann menyebut beberapa cara bagi murid-murid sekolah agar lebih bersemangat untuk belajar dan memiliki tujuan untuk berniat belajar.

Rutinitas yang membosankan

Mungkin anak Anda atau murid Anda, atau kalian sendiri sadar jika belajar membuat Anda stress, tapi stress itu bisa berlarut-larut menjadi burnout ketika rasa lelah selalu hadir pada Anda atau anak / murid Anda. Keadaan makin memburuk dengan rutinitas yang tidak berhenti dan membuat rasa malas semakin menumpuk.

Tujuan belajar

Terkadang burnout saat belajar terjadi ketika hasil belajar tidak sesuai dengan yang diharapkan, padahal sudah belajar ekstra tapi nilai masih jelek-jelek saja.

Namun, ada juga burnout akibat murid / anak Anda atau Anda sendiri tidak punya tujuan lebih terhadap belajar, atau pembelajaran tidak memberikan tantangan berarti.

Teori

Cara membuat murid / anak Anda atau Anda sendiri bisa bebas dari academic burnout adalah membiarkan Anda sedikit longgar dan tidak terpacu persaingan. Guru dan orang tua mungkin keras dalam mendidik murid / anak-anaknya untuk belajar, tapi jika anak sendiri menjadi perfeksionis atau memiliki standar yang tinggi, maka anak tersebut akan lebih cepat merasa stress.

Hal-hal yang bisa dicoba untuk mengatasi academic burnout:

 

Berhenti memotivasi diri sendiri

Anak tidak perlu harus memotivasi diri sendiri, jika Anda sudah merasa lelah dan bosan, jangan menambah tekanan tidak perlu dan membuang energi untuk termotivasi.

Anak boleh memiliki perasaan negatif, sementara perlahan-lahan ia akan bisa mengambil langkah produktif.

Bergaul di luar lingkungan kelas

Teman-teman di kelas memang mungkin baik, tapi sedikit menjauh dari teman-teman kelas juga baik untuk anak, karena ia bisa berada di pergaulan yang tidak mempedulikan persaingan dan nilai-nilai sekolahnya.

Gunakan pemikiran ‘aksi selanjutnya’

Ketika anak benar-benar merasa kewalahan, jangan buat mereka berpikir terlalu jauh, seperti dikatakan guru produktivitas David Allen: ‘Apa aksi selanjutnya?’

Dengan itu anak sadar jika mereka hanya perlu melakukan satu hal lagi, misal mengerjakan pekerjaan rumah, mengulas materi pelajaran. Kemudian ia mulai mengerjakan satu hal lagi dan bertambah lagi.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top