Dampak Sekolah Online untuk Siswa

Pandemi Covid-19 telah membuat umat manusia menghadapi ketidakpastian, membuat keinginan untuk mendapatkan kepastian begitu membara. Pastinya, Covid-19 membuat manusia sadar jika kita semua tidak mampu menghadapi situasi yang tidak pasti. Pola pikir manusia telah berubah, dan tanpa sadar sebuah pandangan logis di tahun 2019 lalu kini tidak relevan lagi di tahun 2021.

Perubahan ini wajar, dan terasa di tingkat individual, institusi dan masyarakat. Semua menyadari kehidupan di dunia telah penuh dengan permasalahan dan solusi yang sama-sama rumit. Mulai dari Kesehatan, ekonomi, politik, teknologi, etika, budaya, Pendidikan dan banyak sektor lain pun terdampak.

Vaksin terbukti sudah tercipta dalam satu dua tahun, menunjukkan kesehatan manusia sudah mencapai teknologi yang diharapkan. Namun kita semua kesulitan menentukan bagaimana menghadapi  akibat sampingan virus terhadapi politik, ekonomi dan dampak sosial lain. Lalu, ada juga kepentingan mendesak untuk memahami dunia baru yang terbentuk setelah pandemi Covid-19. Seperti misalnya bagaimana cara industri tetap bertahan di tengah masa pailit dan bagaimana para pekerja yang kehilangan pekerjaannya bisa mendapatkan pekerjaan kembali.

                Sebelum pandemi membungkam hampir seluruh dunia, industri penyaringan pencari kerja sudah kesulitan menempatkan para lulusan universitas ataupun lulusan sekolah menengah ke dunia kerja. Lagaknya, ketimpangan antara hasil yang ditawarkan Pendidikan dengan dunia kerja nantinya akan lebih besar setelah pandemi Covid-19.

                Menjadi gerbang pengentasan kebodohan dan kemiskinan di Indonesia, sektor Pendidikan Indonesia memegang peran sangat vital bagi masa depan negara ini. Kini, dengan adanya wabah Covid-19, Pendidikan menjadi satu sektor yang terpaksa dikorbankan oleh pemerintah agar mencegah penularan massif. Jika Covid-19 yang disebabkan oleh virus Corona menyebar dengan mudah di tempat manusia berkumpul dan berinteraksi secara langsung, maka ruang-ruang kelas di sekolah-sekolah seluruh penjuru negeri menjadi tempat penularan utama. Itulah sebabnya, pemerintah menerapkan melaksanakan system pembelajaran jarak jauh untuk tetap melaksanakan Pendidikan di tengah masa pandemi Covid-19.

                Tidak dipungkiri, hal ini menjadi tantangan baru untuk sektor Pendidikan. Kelas-kelas virtual menggantikan pertemuan tatap muka, dan tugas serta materi Pendidikan dikirimkan lewat gawai yang dimiliki siswa. Ruang kelas berubah menjadi ruang virtual, guru hanya sedekat kotak kecil di layar komputer milik siswa, atau sekedar sapaan pagi-pagi di group media sosial, menunggu murid-muridnya segera mengumpulkan tugas. Sedangkan kawan-kawan yang dulunya sering bersua dan bercanda melakukan hal-hal yang menyenangkan kini juga sulit ditemui. Tak ada lagi tawa Pelepas penat setelah sama-sama kesulitan belajar menyerap ilmu, atau terlibat berbagai kenakalan anak sekolah yang sebatas iseng belaka.

                System ini rapuh, meski begitu pemerintah tidak punya pilihan lain selain terus melaksanakannya. Ironisnya, realita di lapang ternyata masih banyak sekali siswa yang kesulitan menghadapi system dadakan ini. Survei dari para siswa di kota Surakarta dan beberapa kota di Indonesia menunjukkan beberapa tantangan yang menjadi sumber masalah untuk para siswa belajar dengan system virtual ini.

Tantangan yang Dihadapi Siswa

                Penulis membagikan kuisioner sebagai cara mendapatkan data di lapangan kepada para murid yang aktif belajar. Didapat 31 responden berusia 9-18 tahun yang bersekolah di jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas dan juga Sekolah Menengah Kejuruan.

                Para siswa melaksanakan pembelajaran virtual kurang lebih awal Maret 2020 atau dengan kata lain sejak wabah Covid-19 sudah masuk ke Indonesia. Secara umum cara belajar online yang dilakukan guru dan para murid ini hampir sama, dengan tugas dikirimkan oleh guru mereka lewat media sosial WhatsApp, kemudian penjelasan materi lewat aplikasi Zoom. Tugas yang diberikan guru itu diberi tenggat waktu dan kemudian harus dikumpulkan Kembali ke guru mereka lewat WhatsApp, dikirimkan langsung ke guru masing-masing atau di grup kelas.

                Tidak semua responden menikmati kelas online sepenuhnya, ada 4 responden yang dari sekolahnya mengharuskan mereka masuk ke kelas tiap 2x atau 1x seminggu. Mereka berasal dari antara lain SD Sangen 3, Madiun, Jawa Timur dan SMKN 1 Magelang, Jawa Tengah. Umumnya, di beberapa sekolah tetap membuka ruang kelas untuk pembelajaran tatap muka. Biasanya hal ini dilakukan karena beberapa keterbatasan seperti fasilitas internet kurang memadai, atau pembelajaran via Zoom kurang dapat dipahami siswa. Tidak semua muridnya masuk ke kelas, biasanya mereka digilir agar kelas tidak terlalu penuh.

                Para responden mengaku kesulitan dalam mengakses materi, dari 31 responden ada 15 atau hampir separuh responden mengalami kesulitan mengakses materi, 13 lainnya merasa mungkin ia kesulitan mengakses materi, dan hanya 4 menjawab yakin tidak kesulitan mengakses materi. Kesulitan para siswa ini bermacam-macam, dimulai dari jaringan internet yang tidak stabil, penjelasan guru yang kurang jelas karena tidak berada di hadapan guru itu sendiri, tidak bisa bertanya secara langsung, guru tidak segera merespon siswa atau slow respond, lalu untuk para siswa SMK kesulitan juga berasal dari ketiadaan praktik yang seharusnya juga mereka dapatkan. Kemudian, rasa jenuh karena terus-terusan di rumah membuat siswa malas, sulit fokus hingga mengantuk.

                Beberapa siswa juga tidak diberikan materi baik lewat Zoom maupun tatap muka langsung. Hal itu membuat mereka sebal, seperti yang dialami Nafa, kelas 12 IPS 4 SMAN 1 Karanganyar, Jawa Tengah. Ia menuliskan dalam hasil surveinya “Terkadang gurunya memberi tugas/pelajaran tidak pada waktunya. Beberapa bahkan cuma memberi tugas lalu lepas. Tak peduli siswanya paham materi atau tidak. Yang penting absen.”

                Namun kesulitan belajar tidak ditemui oleh beberapa siswa meskipun tidak bertemu langsung dengan guru. Saat ditanya bagaimana caranya, Krisna Sintia, siswi kelas 11 MIPA 1 SMAN 1 Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, menjawab “Setiap hari guru pasti mengirimkan tugas, nah saat tugas itu di kirimkan. Saya langsung mengerjakan. Hal itu mengurangi resiko tugas menumpuk. Terlebih lagi, ketika semua tugas telah selesai. Akan ada banyak waktu buat bersantai tanpa harus memikirkan deadline tugas.” Ada juga cara jitu dari Muhammad Rafi Al Fathoni, siswa kelas 7D SMPN 1 Kartasura, Jawa Tengah, yaitu tidak perlu sambal membuka aplikasi lain yang justru mengganggu belajarnya para siswa.

                Salah satu gangguan bagi siswa dalam belajar online memang kegemaran untuk membuka aplikasi lain. Banyak para siswa di Indonesia tidak punya komputer atau laptop, yang menyebabkan mereka mengakses pembelajaran mereka melalui telepon genggam atau gawai Android mereka. Tentunya, akan banyak aplikasi lain di gawai kecil itu yang lebih menarik daripada membuka WhatsApp dan mengakses materi. Rasa jenuh dan suntuk membayangi para siswa, berakibat banyak yang memilih mengakses aplikasi hiburan daripada belajar  Total dari 31 respoden yang sering membuka aplikasi lain saat belajar lewat HP ada sebanyak 29 responden yang juga bermain aplikasi lain saat belajar.

                Aplikasi Instagram menjadi pilihan mayoritas anak-anak untuk mencari hiburan di saat mereka belajar, dan kemudian disusul oleh aplikasi Game, dilanjut TikTok dan kemudian Twitter. Cukup miris, karena kemudahan akses itu dibayar melalui kuota internet dan juga gawai yang seharusnya diperuntukkan untuk belajar. Ironisnya, dari total 31 responden ada 3 anak yang tidak memiliki fasilitas belajar jarak jauh ini. Mereka mengakalinya dengan belajar lewat buku pelajaran atau belajar kelompok bersama teman-teman mereka, tapi juga ada yang memilih tidak belajar sekalian.

                Meskipun banyak yang mengalami kesulitan untuk fokus belajar, siswa-siswa ini tetap semangat memikirkan cara agar mereka bisa menguasai materi, seperti yang dilakukan Rafi dari SMPN 1 Kartasura menjelaskan ia mencari materi yang dijelaskan oleh gurunya dari buku pelajaran dan juga internet. Mencari materi lebih banyak lewat Google juga dilakukan oleh Muhammad Naufal Adiib Faraaj, kelas 10 IPA 3 SMAN 1 Mempawah, Kalimantan Barat. Sementara itu Nafa dari SMAN 1 Karanganyar memilih melihat YouTube untuk visualisasi materi yang ia perlukan. Artinya tidak semua siswa hanya mencari aplikasi hiburan dan teralihkan dari belajar.

                Banyak dari para siswa ini tetap ingin Kembali ke sekolah biasa seperti sebelum pandemi Covid-19, dengan hanya ada 4 anak yang ingin terus belajar secara virtual dan 27 lainnya ingin belajar seperti biasa agar lebih mudah bertemu dengan guru untuk bertanya tentang materi, tidak jenuh dan juga bertemu dengan teman-teman kelasnya. Mereka yang memilih tetap belajar online, sementara itu, merasa belajar online membuat mereka dekat dengan keluarga, seperti jawaban Krisna dari SMAN 1 Wuryantoro, menjawab “Di rumah, lebih dekat dengan keluaga, serta banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan di rumah.” Kenyamanan di rumah ini juga menjadi pilihan mereka yang ingin terus belajar jarak jauh seperti ini.

Tantangan yang Dihadapi Guru/Dosen

                Kesulitan pembelajaran jarak jauh tidak hanya dihadapi murid saja. Para guru ataupun dosen juga mengalami kesulitan ini, seperti yang dialami oleh Dosen Fakultas Matematika Universitas Pekalongan, Nur Baiti Nasution. Saat diwawancarai oleh penulis, dosen yang sudah mengajar online 2 semester itu menyebut kesulitan utama yang ia hadapi adalah persiapan materi yang memakan waktu lama dan tidak ada keaktifan dari mahasiswanya.

                Tentunya, guru-guru ataupun dosen seperti Nur Baiti mengalami kesulitan mengawal murid dan mahasiswanya yang membolos, tapi Nur Baiti memiliki caranya sendiri untuk memastikan mahasiswanya tidak membolos. “Saya sering melemparkan pertanyaan di grup/classroom dan mendata pertanyaannya, mahasiswa saya akan enggan membolos karena harus menjawabnya dan harus mendengarkan materi saya,” dan menambahkan jika penyampaian materi secara virtual lebih mudah jika materinya sudah disiapkan. Namun, karena Nur Baiti dan guru-guru lain juga sudah berkeluarga, membagi waktu untuk pekerjaan rumah tangganya dengan pekerjaannya sebagai guru ataupun dosen memang sedikit sulit.

                “Saya sering kali baru bisa membuat materi di waktu malam hingga dini hari, setelah dua anak saya tertidur,” jelasnya. Nur Baiti adalah ibu dari dua anak, satu berusia 7 tahun dan satunya hampir 2 tahun. Selain kesulitan membagi waktu untuk membuat materi, ia juga masih bersama suaminya menemani anak tertuanya untuk melaksanakan belajar virtual, menjelaskan materi sekaligus memantau anaknya mengerjakan tugas.

                Namun tidak seperti harapan para siswa yang ingin belajar tatap muka setelah pandemi Covid-19 selesai, menurut Nur Baiti system belajar yang ia minati setelah pandemi ini usai adalah blended learning, yaitu metode belajar Ketika proses belajar tatap kelas berpadu dengan proses e-learning atau belajar lewat internet.

Artikel ini merupakan artikel dari majalah Intisari edisi Mei 2021 karangan Maymunah Nasution berjudul ‘Seribu Tantangan Bersekolah di Era Pandemi’. Penulisan ulang sudah mendapatkan izin penulis yang bersangkutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top